Lika-liku hidup sang Tombol Like
Sekarang, dekat dengan teman dan idola tidak sesulit meludahi matahari hingga padam.
Sosial media bisa diibaratkan sebuah transportasi umum. Orang-orang dari segala kalangan bersatu didalamnya. Mereka semua tidak saling mengenal, namun berusaha untuk saling kenal. Ada orang-orang yang mencari temannya didalam angkutan umum. Ada juga konflik yang terjadi di angkutan umum.
Sign Up bisa diibaratkan seperti mendaftarkan kartu jangka panjang untuk menaiki angkutan umum. Sementara log in seperti menggesek atau mengetap kartu tersebut pada sebuah mesin untuk bisa masuk ke angkutan tersebut.
Kolom komentar seperti tempat menjawab pertanyaan orang yang kita kenal, maupun yang kita tidak kenal. Tombol like hanyalah sebuah acungan jempol.
Tombol Like? ya.. beta akan menceritakan kisah tentang tombol like.
Tombol Like lahir pada suatu hari di tahun 2004, di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Dari pasangan Mark Zuckerberg dan Facebook. Tombol Like ditakdirkan untuk menaikan indeks kebahagiaan para pengguna Facebook dan dunia. Sudah jutaan kali Tombol Like andil dalam membuat pelanggannya bahagia.
Namun, banyak para pengguna yang menyalahgunakan jasa Tombol Like, dari yang kegunaannya untuk membahagiakan para pengguna Facebook, menjadi ladang uang. Dari beberapa situs, dikatakan bahwa Tombol Like memberikan ratusan ribu jasanya secara cuma-cuma kepada sebuah posting, meskipun Tombol Like tidak mendapat imbalan apapun, pemilik postingan ini bisa mendapat uang hanya dengan membuat postingan itu berbobot dan membuatnya seperti membutuhkan jasa Tombol Like. Apa yang dimanfaatkan dari pemilik postingan ini agar banyak orang yang mau menggunakan jasa Tombol Like yang malang ini untuk membuat pemilik postingan ini kaya?
| foto doi sekarang dan beberapa puluh tahun kedepan |
Sosial media bisa diibaratkan sebuah transportasi umum. Orang-orang dari segala kalangan bersatu didalamnya. Mereka semua tidak saling mengenal, namun berusaha untuk saling kenal. Ada orang-orang yang mencari temannya didalam angkutan umum. Ada juga konflik yang terjadi di angkutan umum.
Sign Up bisa diibaratkan seperti mendaftarkan kartu jangka panjang untuk menaiki angkutan umum. Sementara log in seperti menggesek atau mengetap kartu tersebut pada sebuah mesin untuk bisa masuk ke angkutan tersebut.
Kolom komentar seperti tempat menjawab pertanyaan orang yang kita kenal, maupun yang kita tidak kenal. Tombol like hanyalah sebuah acungan jempol.
Tombol Like? ya.. beta akan menceritakan kisah tentang tombol like.
Tombol Like lahir pada suatu hari di tahun 2004, di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Dari pasangan Mark Zuckerberg dan Facebook. Tombol Like ditakdirkan untuk menaikan indeks kebahagiaan para pengguna Facebook dan dunia. Sudah jutaan kali Tombol Like andil dalam membuat pelanggannya bahagia.
Namun, banyak para pengguna yang menyalahgunakan jasa Tombol Like, dari yang kegunaannya untuk membahagiakan para pengguna Facebook, menjadi ladang uang. Dari beberapa situs, dikatakan bahwa Tombol Like memberikan ratusan ribu jasanya secara cuma-cuma kepada sebuah posting, meskipun Tombol Like tidak mendapat imbalan apapun, pemilik postingan ini bisa mendapat uang hanya dengan membuat postingan itu berbobot dan membuatnya seperti membutuhkan jasa Tombol Like. Apa yang dimanfaatkan dari pemilik postingan ini agar banyak orang yang mau menggunakan jasa Tombol Like yang malang ini untuk membuat pemilik postingan ini kaya?
![]() |
| greget tapi demen liatinnya :v |
mari kita kembali ke dimensi penulis. Aryou juga tau itu bukan akun official. Aryou
juga bukan fansnya.. buat apa? Sinetron perusak moral bangsa?
Di post tersebut, anda dihadapkan pada sebuah pertanyaan. Apa kalian menyayangi ibu kalian? ada dua pilihan. Di pop-up screen editan murahan itu ada tombol yes dan no. Jika kalian mengklik yes, maka foto tersebut akan menjadi full screen :v. Jika kalian mengklik no, hal yang sama akan terjadi.
Maka dari itu, actionnya diganti menjadi Like atau Abaikan/bodo amat. Tombol yes diwakilkan oleh Like, dan Tombol no diwakilkan oleh Abaikan/bodo amat.
Sudah ada ratusan trilyun postingan seperti itu. Memang (hampir) semua orang didunia ini mencintai ibunya. Sekarang mari kita lihat berapa uang yang dihasilkan dari setiap jasa yang diberikan oleh Tombol Like secara cuma-cuma.
Page terlampir memiliki hampir 1 juta followers dan ratusan ribu likers polos di setiap postingannya. Halaman tersebut menurut analisa Aryou, akan dijual saat sudah mencapai target. Kalau tidak dijual biasanya menjadi lahan iklan besar-besaran. Beta tidak tahu pasti berapa uang yang didapat doi, tapi setidaknya, postingan kayak gini itu menghasilkan uang.
Kembali ke realita, biasanya, Aryou menemukan postingan seperti ini di home Facebook Aryou. Postingan ini berhasil menginjak feeds Aryou setelah dilike dan dikomen oleh salah satu teman Aryou yang polos di sosial media. Memang, banyak temen Aryou yang membuat Facebook dengan tidak mencantumkan tanggal lahir yang sesuai. Yang aslinya 2003, di timelinenya tahun 1995, 1998, 1969 dsb.
Sama seperti SIM, anak dibawah 13 tahun tidak boleh memakai sosial media seperti Facebook karena belum siapnya mental untuk menjelajahi dunia penuh ketidakpastian seperti itu. Ya.. ambil contohlah dari postingan diatas.. yang ngelike ada juga anak sd..
Jadi inti dari paragraf yang berjarak beberapa baris diatas tulisan ini, jika anda mencintai ibumu, ungkapkanlah ke ibumu.. bukan ke Fake Account kayak gini. Dan jika anda menglike postingan tersebut, uang mengalir ke dompet mimin polos akun tersebut. Berarti jika kalian ngelike postingan tersebut, berarti sayang mimin polosnya juga dong..
Minimal kalian tau sendirilah.. apa yang ada dipikiran penulis..
Kembali ke nasib Tombol Like, nasibnya masih dibicarakan hingga sekarang. Masih banyak kaum tidak bertanggung-jawab yang menggunakan jasa doi secara cuma-cuma dan mendapatkan hasil yang tidak "cuma". Kasian doi, dan pengguna lainnya..

Komentar
Posting Komentar